Minggu pagi, aku bersepeda seperti biasanya. Tiba-tiba... lihat ini! Kalau dilihat dari satu sisi.... Ternyata tulisan "Facebook"...

Minggu pagi, aku bersepeda seperti biasanya. Tiba-tiba... lihat ini!
Kalau dilihat dari satu sisi....

Ternyata tulisan "Facebook" melewati siku-siku tembok

T - Tak ada yang bisa dituangkan O - Obeng, tang, palu tak bisa digunakan L - Lembaran kertas kosong masih tanpa tulisan O - Obsesi pujan...

T - Tak ada yang bisa dituangkan
O - Obeng, tang, palu tak bisa digunakan
L - Lembaran kertas kosong masih tanpa tulisan
O - Obsesi pujangga hanya jadi bualan
N - Nestapa datang menjadi teman
G - Gara-gara kata-kata tak bisa dikeluarkan
                 
                    A- Angin malam menusuk membawa kebingungan
                    J - Jarum jam terus berdetak mengikis zaman
                    A - Akankah bisa terselesaikan..
                    R - Rentetan huruf judul yang menjadi aturan
                    I - Istilah yang terangkai harus jadi pemandangan

B - Banyaknya peralatan melimpahnya bahan
E - Entah kenapa tertahan untuk dimanfaatkan
R - Romantisme cinta, fenomena alam, rumitnya kehidupan, indahnya persahabatan
P - Pantasnya lancar untuk diekspresikan
U - Ungkapan indah jadi resesif, kebingungan jadi dominan
I - Imajinasi, inspirasi, energi, janganlah jadi tawanan yang tak bisa dikeluarkan!
S - Sempoyongan...
I - Inginku, kau ajari aku berpuisi, kawan.

Kebohongan Awal Tahun Sebenarnya Selorejo, tapi mereka membaca "Nganjuk" Malang, 2 Januari 2012 06.46 aku memancal ke rumah Bu...

Kebohongan Awal Tahun
Sebenarnya Selorejo, tapi mereka membaca "Nganjuk"

Malang, 2 Januari 2012
06.46 aku memancal ke rumah Burhan di belakang bekas pasar dinoyo. Sambil menunggu lainnya datang, kami bermain PES2011 dulu. Sekitar setengah delapan, 6 anak lainnya datang. Gege & Rijal, Luthfan & Andri, Bobi & Zeza. Kami menggunakan 4 sepeda motor berboncengan berangkat ke tujuan kami, bendungan selorejo. Sebenarnya Burhan yang nyetir, tapi dia nggreges. Akhirnya aku yang belum punya SIM harus nyetir.
Beberapa menit berselang, kami nyampek di alun-alun kota wisata Batu. Kami istirahat beberapa saat di sana karena menunggu Arya yang bersedia sendirian berangkat ke Selorejo. Juga menunggu Gege yang masih nembel ban motornya. Burhan pun pergi sarapan soto dan buang air sejenak.
Dan, setelah menuggu beberapa saat, ketiga orang itu datang bersamaan. Kami pun langsung menuju Selorejo dengan sukacita.Sementara 4 pengendara lain melaju dengan kencangnya, aku sebagai pengendara yang biasa mengayuh sepeda melaju dengan pelannya. Tertinggal cukup jauh. Jalannya naik-turun belok-belok, aku kurang cukup skill dalam mengendarai motor. Untungnya mereka baik, masih sempat menunggu di pinggir jalan daerah pujon. Kami sempat diserbu rintik hujan. Kami pun memakai jas hujan. Tapi beberapa meter setelah itu, berhentilah gerimis tadi.
Aku masih saja tertinggal karena pelan. Tapi, sampai juga di gerbang masuk Selorejo. Singkat cerita, kami memulai perjalanan di sekitar danau buatan itu.
 
Kami menyempatkan diri foto bersama dengan background yang menakjubkan

Ada yang foto ala boyband

Aduh

Kami sempat kehujanan, lalu berteduh...

Selanjutnya, kami memutuskan naik perahu mengitari danau. Awalnya, Luthfan dan Andri tidak mau naik perahu, mungkin karena mereka "anti-air". Anak-anak lain terus memaksa sampai mereka berdua akhirnya ikut naik walau dengan perasaan yang tidak enak. Luthfan yang duduk di depan terus dijaili oleh anak lain.
Sebelum naik, foto dulu dengan perahu "Sopo Nyono".

Sampai juga di daratan
Setelah itu, kami menuju warung dekat sana untuk mengisi kekosongan perut dengan ikan-ikan enak.
Setelah sholat, kami pulang menuju arah Batu, kembali ke alun-alun Batu.


Di sinilah kebohongan itu mulai terjadi. Kami merasa anak-anak cewek pamer dengan liburannya. Cewek-cewek itu meng-update status bbm-nya, ada yang ke Jakarta, Lombok, dsb. Sedangkan kami, Selorejo.Sementara cewek-cewek itu tidak tahu apa yang sebenarnya kami kunjungi, seseorang punya ide meng-update statusnya dengan "Malang-Batu-Pujon-Pare-Kediri-Nganjuk". Ya, NGANJUK. Anak-anak lain mengikuti dengan membuat tweet seperti itu.
Cewek-cewek yang hanya tahu dari dunia maya pun percaya hal itu. Mereka membalas, "Ha, gilak. Ati-ati rek". kurang lebih seperti itu. Bahkan, orang-orang yang mengenalku sebagai pemancal juga heran. Aku dikira mancal sampe Nganjuk.
Padahal sebenarnya saat itu kami berada di dekat alun-alun Batu sedang beli ketan susu.



Liburan yang mengherankan.....

Minggu, 25 Desember 2011, Aku karo konco-koncoku mancal nang mbatu, mek arek 5 wes termasuk aku. Arya, Tyok, Burhan, Zeza, Aku. Jam setengah...

Minggu, 25 Desember 2011, Aku karo konco-koncoku mancal nang mbatu, mek arek 5 wes termasuk aku. Arya, Tyok, Burhan, Zeza, Aku. Jam setengah 5 aku budhal nang Jl. Soekarno Hatta ngumpul sek karo arek-arek. Terus aku budhal liwat Dinoyo-Tlogomas-Sengkaling. Sampek perbatasan Batu nendes kombet dhisik ndek ngarepe toko sing sek tutup.
Maringono budhal nang alun-alun Batu liwat embong gedhe. Dalane munggah nuemen wes, gak onok mudhune. Aku ndhisiki, tapi mandek-mandek ngaso ndek pinggir dalan. Ketemu rombongan liyane. Aku nyampek alun-alun dhisikan. Kuwesel. Perjalanane sekitar sak jam. Terus aku muter-muter dhewean koyok wong ilang soale ngenteni arek-arek. Rodo suwe, Arya karo Tyok teko. Terus arek-arek iku ngejak tuku susu ndek pojokan. Moro-moro Burhan mrono pisan. Terus Zeza teko terakhir ndek panggone won dodol susu. Zeza tuku susu 1 liter.
Maringono nang alun-alun ngisi banyu ngombe sek. Jarene banyune iso langsung diombe. Terus sarapan ndek soto cedhek Batu Town Square. Moro-moro onok libom ban mburine ucul. Deloken iki.
Mari sarapan Burhan njaluk nang alun-alun maneh soale durung foto-foto. *Aduh. Perjalanan mbalik nang alun-alun.


Parkir sepeda ndek pinggir dalan.

Ndek alun-alun, mlaku-mlaku sek. Foto-fotone nggawe hapene Tyok. Tapi Zeza menyendiri ora melu foto. Koyok wong galau.
Mari tekok alun-alun, awak dhewe langsung mbalik nang Malang. Mudhun dalane. Buwanter. Kecepetane nyampek 60 km/jam iso nyalip libom, sepeda motor, karo mikrolet. Mek 10 menit wes nyampek Sengkaling. Terus Arya njaluk liwat dalan mburine UMM. Aryak ngejak liwat dalan cilik ndek tengah sawah, nyebrang kali.


Ndek jembatan, arek-arek koyok ngene.


Tibakno dalane tembus nang gang ndek daerah Tlogomas. Terus mampir nang omahe Cucud entuk jus karo kripik gratis. Hehehe.
Terus mulih nang omah dhewe-dhewe.

Aduh, opoo fotone dadi ajur pas diupload...
Sorry yo..

Bukannya aku sok pemberani, bukannya aku menantang kehadiran mereka. Tapi pada kenyataannya aku memang kepingin melihat mereka tanpa digangg...

Bukannya aku sok pemberani, bukannya aku menantang kehadiran mereka. Tapi pada kenyataannya aku memang kepingin melihat mereka tanpa diganggu secara mental maupun fisik, hanya melihat saja. Tiba-tiba teringat sesuatu. Masa kecilku dulu ternyata pernah dua kali diganggu makhluk-makhluk itu. Yaa, setahuku dua kali.
Yang pertama :
Aku yang saat itu masih bayi katanya menangis terus menerus, berhenti kalo capek, menangis lagi setelah itu. Diapa-apakan pun masih terus menangis. Tengah malam terus menangis sampai mengganggu tetangga. Sekampung sampai terheran-heran, bingung, kasihan, mau diapakan lagi...
Akhirnya aku dibawa ke "orang pintar". Akhirnya tahu kalau ternyata ada yang mengganggu. Ternyata yang mengganggu adalah makhluk di pohon beringin depan rumah yang katanya entah buyut, ibuknya buyut, atau neneknya buyutku. Dengan hal macam-macam yang disuruh "orang pintar" itu, akhirnya tragedi bayi menangis ini selesai.
Yang kedua:
Saat itu juga masih kecil entah umur berapa. Aku yang masih bayi dibawa ayah ibuku rekreasi dengan rombongan kantor. Rekreasi entah ke mana aku lupa. Di jalan pulang dari rekreasi, bus rombongan lewat Lawang. Bus mengantarkan rombongan yang rumahnya di suatu kampung di sana. Entah kenapa beberapa rombongan mampir ke sana termasuk ayah dan ibu dengan membawaku. Setelah mampir, rombongan berangkat pulang. Tiba-tiba aku "ngroweng-ngroweng" ingin kembali ke rumah itu. Lamaaa sekali. Lalu ada salah seorang yang bilang untuk diantarkan saja kembali ke rumah tadi. Bus rombongan pulang duluan. Akhirnya, setelah sampai di rumah itu lagi, aku berhenti menangis. Setelah beberapa saat, kami memutuskan untuk kembali ke rumah dengan naik angkutan kota. Yang ingin kembali ke rumah itu sebenarnya bukan aku, tapi makhluk penunggu di sana. Begitu katanya.
Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, aku hanya mendengar cerita dari ibuku...

Ada yang bilang kalau telinga berdenging, kita sedang dibicarakan orang saat itu. Salah satu hal yang sering kita lakukan saat berkumpul den...

Ada yang bilang kalau telinga berdenging, kita sedang dibicarakan orang saat itu. Salah satu hal yang sering kita lakukan saat berkumpul dengan teman adalah membicarakan orang lain. Biasanya dimulai dari membicarakan anak harapan bangsa dengan sisi positifnya sampai membicarakan anak yang berharap jadi harapan bangsa dengan keterbatasannya atau bahkan membicarakan anak-anak dengan banyak sisi negatif. Membicarakan sisi negatif seseorang inilah yang biasa kita sebut menggosip atau ghibah.

Membicarakan sifat negatif atau sifat buruk seseorang menjadikan diri kita puas, seperti baru saja curhat, saat beberapa atau semua orang yang ikut dalam pembicaraan mempunyai pikiran yang sama tentang sifat buruk seseorang tersebut. Tapi manusia adalah makhluk yang sulit untuk puas, sehingga bisa-bisa akan membicarakan sifat negatif yang lain atau orang lain dengan sifat negatif sama. Masih banyak sifat-sifat buruk dari spesies paling sempurna yaitu manusia karena tak ada gading yang tak retak, semua manusia pasti punya sisi negatif.

Sekali lagi, tak ada gading yang tak retak, termasuk diri kita. Coba pikirkan, saat ada teman-teman berkumpul, ngobrol, ngrumpi, sampai nggosip, dan yang dibicarakannya adalah diri kita, sifat negatif kita, yang membuat orang tidak suka kepada kita. Tidakkah kita malu? Misalnya yang kecil saja, sering meneteskan air liur saat tertidur di kelas. Tidakkah kita malu? Itu contoh yang kecil, apalagi yang besar....

Jadi, saat kita akan menggosipkan orang, kita harus berpikir dulu bagaimana jika diri kita yang berada di posisi korban penggosipan. Kalau tahu pasti malu, bahkan sakit sekali.



Dalam Islam
Ghibah atau gosip merupakan sesuatu yang dilarang agama. Dalam satu riwayat dari Abu Hurairah, terdapat percakapan sahabat dengan Rasululloh. “Apakah ghibah itu?” Tanya seorang sahabat pada Rasululloh saw. “Ghibah adalah memberitahu kejelekan orang lain!” jawab Rasul. “Kalau keadaaannya memang benar?” Tanya sahabat lagi. ” Jika benar itulah ghibah, jika tidak benar itulah dusta!” tegas Rasululloh.
Dalam Al Qur’an (QS 49:12), orang yang suka meng-ghibah diibaratkan seperti memakan bangkai saudaranya sendiri. Jabir bin Abdullah ra. meriwayatkan, “Ketika kami bersama Rasululloh saw tiba-tiba tercium bau busuk yang menyengat seperti bau bangkai. Maka Rasul pun bersabda, “Tahukah kalian, bau apakah ini? Inilah bau dari orang-orang yang meng-ghibah orang lain”. (HR Ahmad)
Dalam hadits lain dikisahkan bahwa Rasululloh pernah bersabda, “Pada malam Isra’ mi’raj, aku melewati suatu kaum yang berkuku tajam yang terbuat dari tembaga. Mereka mencabik-cabik wajah dan dada mereka sendiri. Lalu aku bertanya pada Jibril, `Siapa mereka?’ Jibril menjawab, `Mereka itu suka memakan daging manusia, suka membicarakan dan menjelekkan orang lain, mereka inilah orang-orang yang gemar akan ghibah!’ (dari Abu Daud berasal dari Anasbin Malik ra).

Kejadiannya hari Jumat, hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2011... Aku diajak temanku ke rumah hantu live horror show di salah satu mall di kota...

Kejadiannya hari Jumat, hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2011...
Aku diajak temanku ke rumah hantu live horror show di salah satu mall di kota Malang. Sebelumnya, kami bersebelas Mahdin Doni, Acong, Imeng, Rangga, Bobi, Zeza, Rissa, Stella, Eci, dan aku nongkrong dulu di kedai roti yang mewah. Alhamdulillah, aku bisa makan 2 donat mahal tanpa menambah pengeluaran harianku.
Lalu kami menuju ke lantai 3 tempat rumah hantu itu berada. Antrean cukup panjang dari anak ingusan yang belum baligh sampai anak kuliahan.Tiketnya 15.000an. Masuknya lima-lima. Akhirnya giliranku masuk. Aku bersama Mahdin, Rissa, Eci, dan Rangga. Setan-setannya adalah oran-orang yang pake make-up. Cukup lucu memang. Semua cowok di rombongan ini pemberani semua. Kami berjalan pelan-pelan sambil menikmati "indahnya" di dalam rumah hantu walaupun 2 cewek ketakutan. Setan pertama kami lewati dengan mudah, walaupun sempat ngikut di belakang. Setan kedua juga seperti itu. Rangga berjalan di belakang sendiri dengan santainya.
Giliran setan kesekian, aku mulai sedikit muak. Si setan gendruwo yang berada di dalam penjara melemparkan baran-barang seperti panci dll yang membuat gaduh. Krompyang... begitu berkali kali. Aku mencoba membalas menakuti setan itu dengan menggoyang-goyangkan penjaranya. Aku lupa kalau nggak boleh pegang-pegang. Hasilnya, si setan keluar dari penjara melalui tirainya dalam kegelapan lalu membentak "BIASA AE MAS!!" kepadaku.
Waduh...sori mas..
Lalu kami melanjutkan perjalanan. Ada setan lagi yang duduk di sebelah tong. Kami berpikir mungkin dia mau mengaget-ngageti kami dengan memukul tong itu. Kami mulai menghitung. 1,2,....3!! Tong belum dipukul. 1,2,...3!!! Belum juga. Sampai beberapa kali ngitung, kami bosen, setannya masih duduk. Kami putuskan jalan terus. Tiba-tiba setan tadi menggebrak tong itu. Hhuuu....
Di tengah jalan, dalam kegelapan, mahdin yang jalan duluan dikagetkan oleh pocong yang tiba-tiba teriak. "Jan***! aku kaget temenan lek iki!!" , mahdin kaget.  Di dekat pintu keluar juga ada pocong yang teriak.
Aduh... lucu pokoknya.
Rombongan kedua Imeng, Doni, Acong, Stella. Kayaknya penakut semua. Katanya, Stella di belakang sendiri, takut, dia memegang imeng terus. Doni sempat bilang jangan lari, tapi dia bilang itu dengan lari-lari kecil. Acong bergumam "gak kuat, gak kuat, gak kuat...". Di tengah perjalanan, Imeng sempat kesandung sesuatu. Dan dia menabrak Doni dan Acong di depannya. Seketika itu juga Acong terdorong lalu menabrak tembok. Sementara Doni, dia menabrak salah satu setan yang jongkok di depannya. Setan itu kesakitan, "Aduh..aduh..".
Sori yo mbak...
 Saat keluar dari rumah hantu, semua bercerita rombongan masing-masing. Lalu, aku posting cerita ini... 

Hari itu hari Sabtu, hari pertama UTS semester 1 SMAN 3 Malang. Karena hari kedua UTS masih hari Senin, kami hampir sekelas pergi menjenguk...

Hari itu hari Sabtu, hari pertama UTS semester 1 SMAN 3 Malang. Karena hari kedua UTS masih hari Senin, kami hampir sekelas pergi menjenguk salah satu teman kami yang sakit. Setelah itu, kami pergi ke rumah ketua kelas yang agak jauh dari sana. Awalnya, si ketua kelas bilang kalo tidak ada makanan sedikitpun di rumahnya. Lalu ada salah satu teman memutuskan akan memasak mie instan, dan itu Indomie. Aku langsung mengayuh sepedaku mengejar teman-teman lain yang naik mobil ke rumah si ketua kelas.
Sesampainya di sana, beberapa dari kami pergi mencari 25 bungkus Indomie karena yang datang saat itu 16 anak. Indomie pun datang, kami memasaknya lalu melahapnya bersama.Sungguh kebersamaan di masa-masa SMA yang indah dengan Indomie yang lezat.

Bahasa Jerman adalah mapel baru di kelas kami saat menginjak kelas XI SMA. Kami sudah kelas XII tap tetap saja kesulitan. Gambar di atas men...

Bahasa Jerman adalah mapel baru di kelas kami saat menginjak kelas XI SMA. Kami sudah kelas XII tap tetap saja kesulitan. Gambar di atas menunjukkan penolakan ulangan harian bahasa Jerman (23/09/11) dengan alasan gurunya telat satu jam pelajaran. Kursi-kursi kosong diatur sedemikian rupa sehingga membentuk monumen abstrak. Berikut gambar lainnya

Sampai-sampai ada yang berpose saat sadar kamera.
Walaupun begitu, ulangan tetap berlangsung. Karena gurunya sudah akrab, beliau menganggapnya hanya sebagai guyonan. Sampai pada akhirnya setelah ulangan guru itu pun minta ikut difoto dan di-tag di facebook. Berikut gambarnya.




SMA memang masa-masa paling indah....

Minggu, 4 September 2011... Aku dan keluargaku pergi ke rumah saudara di daerah dekat candi kidal. Sekitar pukul 15.30 sampai di sana. Jal...

Minggu, 4 September 2011...

Aku dan keluargaku pergi ke rumah saudara di daerah dekat candi kidal. Sekitar pukul 15.30 sampai di sana. Jalan di depan rumahnya menanjak. Di jalan itu dailetakkan dudukan tiang bendera dan dikibarkan bendera merah putih yang belum diturunkan. Karena jalannya miring menanjak, tiang bendera berdiri agak miring tapi tetap seimbang, ada batu kecil yang mngganjelnya.

Keluar dari mobil, kakak yang sudah kuliah membuang batu yang mengganjal tiang itu, adikku memegang tiang itu diikuti adik sepupuku yang masih kelas 3 SD yang agak nakal. Mereka tidak merencanakan apa-apa. Adik kandungku melepaskan pegangannya, si adik sepupu belum. Dia pun berniat melepaskannya, tapi tiang bendera seperti mau roboh. Aku yang dibelakangnya hanya menebak, paling ya nggak jatuh. Lalu aku biarkan. Si sepupu minta tolong. Bapakku yang berniat menggoda sepupu nakal itu juga membiarkan dan malah menakut-nakuti akan dihukum kalo menjatuhkan merah putih. Si sepupu malah menjerit-jerit hampir menangis memanggil "mama". Semua orang di sekitarnya tetap membiarkan. Aku berniat merekamnya tapi aku sudah terlanjur tertawa terbahak-bahak sampai perut sakit dan keluar air mata.

Akhirnya si sepupu itu melepaskan pegangannya perlahan-lahan. Hasilnya, hanya dilepas begitu saja tanpa diganjel batu, tiang bendera tetap berdiri kokoh miring, tidak jatuh dan aku terus tertawa. Hahaha

Anak kecil saja sudah hampir menangis saat hampir menjatuhkan bendera. Apalagi negeri ini. Aku menghargai usahanya mempertahankan negeri ini.